Jakarta-zonabantennews.my.id
publisistiknews.id – Aksi unjuk rasa yang seharusnya menjadi ruang demokrasi kembali berubah menjadi arena teror. Seorang driver ojek online (ojol) harus meregang nyawa setelah terlindas kendaraan taktis Brimob jenis Barracuda saat kericuhan terjadi di depan gedung DPR.
Saksi mata menuturkan, korban yang mengenakan jaket hijau khas ojol berusaha menghindar dari kepungan aparat. Namun naas, mobil Barracuda justru melaju kencang dan melindas tubuhnya. Korban sempat dibawa ke RS Pelni, tetapi dokter jaga menyatakan ia meninggal dunia akibat luka parah di bagian kepala dan dada.
Mobil Rakyat Jadi Alat Pembunuh Rakyat
Tragedi ini langsung memantik gelombang kemarahan publik. Kendaraan taktis Barracuda, yang dibeli dari uang rakyat dengan dalih menjaga keamanan, justru berubah menjadi mesin pembunuh.
“Seharusnya alat negara dipakai melindungi rakyat, bukan melindas rakyat kecil yang mencari nafkah harian,” ujar seorang aktivis HAM di lokasi kejadian dengan nada geram.
Bukan Perusuh, Hanya Pencari Nafkah
Kesaksian massa yang berada di sekitar lokasi semakin menambah pilu. Korban bukan provokator, bukan pula perusuh. Ia hanyalah rakyat kecil yang kebetulan melintas dan terjebak dalam bentrokan.
“Dia hanya ingin mencari sesuap nasi. Tapi apa yang dia dapat? Nyawanya hilang di jalan karena arogansi negara,” teriak seorang pengunjuk rasa dengan suara bergetar.
Polisi Bungkam, Publik Meledak
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi. Namun, video dan foto peristiwa berdarah itu sudah tersebar luas di media sosial, menjadi bukti visual yang tak terbantahkan.
Gelombang kecaman pun membanjiri jagat maya. Tagar solidaritas untuk driver ojol menggema, memperlihatkan amarah publik atas tindakan represif aparat.
Equality Before The Law Hanya Ilusi
Pengamat hukum menilai, tragedi ini menjadi catatan hitam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. “Jika kendaraan dari pajak rakyat dipakai melindas rakyat, itu bukan sekadar kecelakaan. Itu bentuk nyata penindasan. Equality before the law di negeri ini hanyalah simbol kosong, tidak pernah berlaku bagi rakyat kecil,” tegas seorang pakar hukum.
Tragedi yang Membakar Perlawanan
Kematian seorang driver ojol kini menjelma simbol perlawanan. Ia mewakili wajah rakyat kecil yang setiap hari berjuang di jalanan, namun justru menjadi korban kesewenangan negara.
Rakyat pun kian solid bersatu menuntut keadilan. Mereka menyadari bahwa ketika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka perjuangan menuntut keadilan harus dilawan dengan suara yang lebih lantang.
“Jika negara tidak lagi melindungi rakyat, maka rakyat sendirilah yang harus bersatu mempertahankan haknya,” ujar seorang demonstran.
Tragedi ini bukan sekadar kehilangan nyawa seorang ojol. Ia adalah luka bangsa, bukti nyata bahwa demokrasi di negeri ini kian terancam oleh kekuasaan yang represif.
Buatkan Caption Xstrime
🔥 Barracuda Lindas Driver Ojol – Demokrasi Berdarah di Jalanan!
Nyawa rakyat kecil kembali melayang di bawah roda arogansi negara. Mobil taktis dari pajak rakyat berubah jadi mesin pembunuh rakyat! 😡
📢 Equality before the law? Hanya slogan kosong!
✊ Tragedi ini bukan sekadar kecelakaan, tapi bukti nyata penindasan!
#LawanKetidakadilan #DemokrasiDibunuh #JusticeForOjol
0 Komentar